Di Balik Kilau Tambang: Antara Janji Kesejahteraan dan Ketimpangan

Jurnalis Warga
Puluhan ponton tambang timah yang terparkir di kawasan wisata Batu Rakit dan Rutilahu Kecamatan Mentok, Bangka Barat. Foto: Lintasbabel.iNews.id/ Oma.

Dampak lingkungan yang dihasilkan dari investasi ekstraktif juga sangat mempengaruhi perempuan. Kerusakan lahan, pencemaran air, dan berkurangnya akses terhadap sumber daya alam secara langsung memengaruhi aktivitas perempuan, terutama di komunitas pedesaan yang bergantung pada pertanian, perikanan dan pengelolaan air. Ketika sumber air tercemar, maka perempuan akan menjadi menanggung beban tambahan untuk mencari air bersih bagi dirinya sendiri dan bagi kebutuhan keluarganya. 

Dengan kebijakan yang berpihak pada kesetaraan gender seperti adanya pelatihan keterampilan bagi perempuan, keterlibatan dalam pengambilan keputusan, serta perlindungan terhadap hak-hak sosial dan lingkungan. tidak menutup kemungkinan investasi ekstraktif memberi manfaat bagi perempuan, serta industri tambang juga dapat berkontribusi pada pemberdayaan perempuan. Pada akhirnya, pembangunan yang adil bukan hanya soal peningkatan angka, tapi juga siapa yang merasakan manfaatnya. Jika perempuan di daerah tambang masih menghadapu marginalisasi ekonomi, sosial dan lingkungan, maka investasi ekstraktif belum sepenuhnya dapat disebut sebagai pembangunan yang inklusif. (**)


 

Opini oleh : Ana Hairunisa, Mahasiswa Universitas Bangka Belitung, Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik



Editor : Muri Setiawan

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network