Inflasi Babel Turun 0,41 Persen di Oktober, BI Ingatkan Ancaman Kenaikan Harga Jelang Akhir Tahun
PANGKALPINANG, Lintasbabel.iNews.id – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami deflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Oktober 2026. Angka ini berbalik dibandingkan September 2026 yang mencatatkan inflasi sebesar 0,81 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year on year/yoy) Bangka Belitung juga mengalami penurunan menjadi 3,36 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 4,30 persen dan masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, mengatakan penurunan tekanan inflasi tersebut menjadi perkembangan positif. Namun, masyarakat dan pemerintah daerah tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko kenaikan harga hingga akhir tahun.
Menurut Rommy, deflasi pada Oktober 2026 terutama dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas pada Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau.
Salah satunya daging ayam ras yang mulai menunjukkan tren penurunan harga setelah mengalami kenaikan dalam beberapa bulan sebelumnya. Selain itu, harga ikan kerisi dan ikan selar juga mengalami penurunan seiring kondisi cuaca yang mulai kondusif.
"Penurunan harga sejumlah komoditas pangan, khususnya daging ayam ras dan beberapa jenis ikan, turut mendorong terjadinya deflasi pada Oktober 2026. Meski demikian, perkembangan harga tetap perlu dicermati agar stabilitas inflasi dapat terjaga," ujar Rommy, dikutip Selasa (3/11/2026).
Secara spasial, deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Belitung dengan angka 1,31 persen (mtm). Selanjutnya, Kota Pangkalpinang mengalami deflasi 0,55 persen dan Kabupaten Belitung Timur sebesar 0,27 persen.
Sementara itu, Kabupaten Bangka Barat justru mengalami inflasi sebesar 0,33 persen (mtm).
Di sisi lain, secara tahunan tekanan inflasi di Bangka Belitung masih dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan transportasi.
Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 4,70 persen (yoy), terutama dipicu kenaikan harga beras dan cabai rawit sebagai dampak dari fenomena El Nino yang berkepanjangan.
Selain itu, Kelompok Transportasi mencatatkan inflasi sebesar 5,27 persen (yoy). Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi tarif angkutan udara seiring penyesuaian batas maksimal biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge kelas ekonomi untuk penerbangan domestik hingga 40 persen.
Editor: Haryanto