BANGKA BARAT, Lintasbabel.iNews.id -- Kondisi air laut yang kerap keruh selama sekitar satu bulan terakhir membuat nelayan Desa Air Nyatoh, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat (Babar), resah.
Mereka menduga kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas pertambangan di daerah aliran sungai (DAS) Dusun Kampak, Desa Jebus, Kecamatan Jebus, yang dikhawatirkan berdampak terhadap wilayah tangkapan ikan dan mata pencaharian masyarakat pesisir.
Keluhan itu disampaikan langsung oleh para nelayan saat beraudiensi dengan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bangka Barat di OR 1 Setda Bangka Barat, Kamis (29/10/2026).
Ketua Nelayan Air Nyatoh, Asbaru, menegaskan bahwa kondisi perairan yang semakin keruh menjadi persoalan serius bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil laut, terutama nelayan yang menggunakan bagan untuk menangkap ikan.
"Kalau kondisi laut terus keruh dan hasil tangkapan berkurang, tentu kami sebagai nelayan sangat merasakan dampaknya. Kami mencari nafkah dari laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anak," ucapnya.
Pria yang akrab disapa Baba itu mengatakan, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut aktivitas melaut, melainkan juga keberlangsungan ekonomi masyarakat Desa Air Nyatoh. Pasalnya, sebagian besar warga setempat bergantung pada sektor perikanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Lebih dari 80 persen masyarakat Air Nyatoh bekerja sebagai nelayan bagan, mencari kerang, dan wak-wak laut," ujarnya.
Menurutnya, Air Nyatoh selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan teri di Bangka Barat. Selain ikan teri, masyarakat juga mengandalkan berbagai komoditas laut lainnya, seperti cumi-cumi, kepiting, udang, ikan konsumsi, siput gonggong, dan kerang.
Hasil laut tersebut menjadi sumber pendapatan bagi banyak keluarga, termasuk perempuan yang turut mencari dan mengumpulkan hasil laut.
Ditengah kondisi perairan yang dikeluhkan semakin keruh, para nelayan juga mengkhawatirkan kemungkinan adanya material sisa aktivitas pertambangan yang terbawa aliran sungai hingga memengaruhi ekosistem laut.
Mereka menduga kondisi tersebut berpotensi mengganggu habitat biota laut, termasuk menutup lubang-lubang tempat hidup kerang yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat.
Meski demikian, para nelayan berharap dugaan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui pemeriksaan langsung di lapangan agar penyebab kekeruhan air laut dapat diketahui secara jelas.
"Kami tidak mempermasalahkan warga yang bekerja sebagai penambang. Yang kami persoalkan adalah apabila aktivitas pertambangan itu berdampak terhadap laut dan mengganggu wilayah tangkapan ikan," katanya.
Melalui audiensi tersebut, para nelayan berharap Pemerintah Kabupaten Bangka Barat bersama kepolisian dan instansi terkait dapat membantu mencari solusi atas persoalan yang mereka hadapi.
Asbaru menekankan pentingnya penanganan yang mengedepankan kepentingan masyarakat pesisir, sekaligus mencegah persoalan tersebut berkembang menjadi konflik di tengah masyarakat.
"Kami tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Itulah sebabnya kami mengadu ke sini," ujarnya.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait tidak hanya menerima aspirasi nelayan, tetapi juga menindaklanjutinya dengan penelusuran sumber kekeruhan air laut serta pemeriksaan terhadap dugaan dampak aktivitas pertambangan di wilayah tersebut.
Editor : Haryanto
Artikel Terkait
