Antara Pelestarian dan Pertunjukan, Menjaga Ruh Budaya Bangka Belitung di Era Konten

Sukma Wijaya
Sukma Wijaya, Perawat Budaya & Praktisi Kehumasan - Unmuh Babel. Foto : ist

PANGKALPINANG, Lintasbabel.iNews.id - Budaya adalah ingatan kolektif. Bila dirawat dengan pengetahuan, ia menjelma identitas. Bila diperlakukan tanpa pemahaman, ia merosot menjadi tontonan.

Bangka Belitung tidak pernah miskin tradisi. Kita justru berlimpah warisan. Persoalan kita hari ini bukan lagi bagaimana menemukan akar kebudayaan, melainkan bagaimana memperlakukannya dengan tepat.

Mana yang harus dihidupkan. Mana yang boleh dipentaskan. Mana yang harus dijelaskan. Dan mana yang sebaiknya tetap dihormati dalam ruang sakralnya.

Lihatlah Nganggung atau Sepintu Sedulang. Mengarak dulang berisi sajian ke masjid, balai, atau rumah duka bukan sekadar urusan membawa makanan.

Di dalamnya ada kurikulum sosial lintas generasi. Ia mengajarkan berbagi, menggerakkan gotong royong, menumbuhkan kepedulian, dan merawat penghormatan. Di sana hidup falsafah paling tua kita: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Begitu pula Mandi Belimau di Desa Limbung, Jebus. Ritual penyucian menjelang Ramadan itu memiliki jejak sejarah yang panjang. Sungai Limbung menjadi ruang perjumpaan ulama, umara, dan masyarakat.

Esensinya bukan pada air yang membasahi tubuh, melainkan pada kesadaran untuk membersihkan lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci.

Ada Selamat Laut di Belitung sebagai ungkapan syukur masyarakat pesisir atas rezeki bahari. Ada Perang Ketupat di Tempilang yang menyimpan memori sejarah, doa tolak bala, dan solidaritas warga.

Daftar itu masih panjang: Rudat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Beripat Beregong yang mengajarkan ketangkasan dalam Maras Taun, hingga Bukek Puaso Enem yang merawat kebersamaan dalam puasa enam hari di bulan Syawal.

Semua tradisi itu bertahan bukan karena kostum, panggung, atau kamera. Ia bertahan karena makna. Dan justru makna itulah yang kini sedang kita pertaruhkan.

I. Dua Wajah Tradisi yang Sering Tertukar

Kita perlu berani menarik garis tegas. Tidak semua tradisi lahir untuk dipentaskan, dan tidak semua yang bisa dipentaskan boleh diperlakukan sebagai hiburan.

1. Tradisi Komunal-Edukatif

Sifatnya terbuka, inklusif, dan membawa pesan sosial yang universal. Nganggung, Rudat, dan Bukek Puaso Enem masuk kategori ini. Ia sangat layak hidup di panggung seni, kurikulum muatan lokal, kalender kebudayaan, hingga pariwisata.

Syaratnya satu: pertunjukan tidak boleh memutus hubungan dengan nilai yang melahirkannya. Budaya boleh dikemas. Budaya boleh masuk industri kreatif. Tapi jangan sampai setelah dikemas, ia kehilangan isi.

2. Tradisi Ritual-Sakral

Di wilayah ini logikanya berbeda. Ia tidak sekadar ekspresi sosial, tetapi bersentuhan dengan keyakinan, doa, simbol sakral, dan relasi transendental manusia dengan Tuhan.

Prosesi Penimbongan dalam Perang Ketupat memiliki konteks ritusnya sendiri. Demikian pula Rimbas Tepong dalam Selamat Laut.

Di sinilah batas pelestarian dan pertunjukan harus diletakkan dengan tegas. Tidak semua yang sakral harus dipindahkan ke panggung. Tidak semua doa perlu disulap menjadi atraksi. Tidak semua simbol harus dijadikan konten.

Ketika kekhusyukan dipaksa berkompromi dengan kebutuhan visual media sosial, yang bergeser bukan hanya bentuk acaranya. Orientasinya ikut bergeser.

Dari taqarrub menuju viral.

Dari syukur menuju show.

Dari penghayatan menuju pencitraan.

Ketika sudut kamera lebih penting dari kesucian makna, kita patut berhenti dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang kita lestarikan?

II. Jebakan Komodifikasi: Ketika Anggaran Lebih Berisik daripada Makna

Di sinilah kebudayaan terjebak dalam apa yang saya sebut sinetron berkemenyan. Jargon pelestarian begitu fasih kita ucapkan. Tapi yang dipelihara jangan-jangan bukan nilai dan pengetahuannya, melainkan kesinambungan kalender event.

Kita sibuk menghitung jumlah festival, jumlah pengunjung, statistik unggahan, engagement, dan besaran anggaran. Tapi ada satu angka yang jauh lebih penting dan jarang ditanyakan: berapa banyak anak muda yang pulang membawa pemahaman?

Setelah Nganggung, apakah mereka paham mengapa berbagi adalah jantung tradisinya?

Setelah Perang Ketupat, apakah mereka mengerti sejarah dan pesan kebersamaan di baliknya? Atau mereka hanya pulang dengan kesimpulan: ketupat bisa dilempar, kamera bisa merekam, video bisa diunggah?

Inilah risiko ketika budaya terlalu tergesa dimasukkan ke mesin industri konten. Budaya dipaksa menjadi tontonan sebelum sempat diajarkan sebagai pengetahuan. Padahal, tradisi tidak otomatis lestari hanya karena sering ditampilkan.

Kita juga harus berani menghadapi sisi lain warisan. Tidak semua praktik masa lalu harus diterima tanpa kritik. Kajian atas Tangkel dalam pernikahan Melayu Bangka, misalnya, menunjukkan bahwa praktik yang menyandarkan keselamatan kepada selain Allah perlu dibaca melalui perspektif al-'urf, bahkan berpotensi sebagai 'urf fasid.

Persoalan seperti ini tidak selesai dengan panggung yang lebih megah atau kamera yang lebih banyak. Jika tradisi yang mengandung problem akidah langsung dikemas sebagai paket wisata tanpa proses tashfiyah — pemurnian pemahaman — dan edukasi, kita harus jujur mengatakan:

Kita bukan sedang melestarikan budaya. Kita sedang melestarikan kesalahpahaman.

Menghormati warisan budaya tidak berarti membekukan semua praktik dari evaluasi. Warisan budaya patut dihargai. Warisan pemikiran tetap harus diuji dengan ilmu. Terkadang melestarikan justru berarti memperbaiki cara kita memahami warisan itu.

III. Jalan Tengah: Menghidupkan, Bukan Sekadar Memajang

Apakah solusinya menghentikan festival dan melarang tradisi tampil? Tentu tidak. Budaya yang diisolasi akan membeku menjadi artefak. Budaya yang hanya hidup di panggung akan kehilangan akar.

Kita butuh jalan tengah: menghidupkan, bukan sekadar memajang.

1. Kurasi, bukan sekadar selebrasi.

Pemerintah, dewan adat, ulama, budayawan, akademisi, dan komunitas harus duduk bersama menyusun peta kebudayaan yang terstruktur.

Mana yang layak dipentaskan. Mana yang menjadi materi edukasi. Mana yang menjadi industri kreatif. Mana yang harus tetap dijaga sebagai ritus sakral di ruang asalnya. Dan mana yang perlu direkonstruksi pemahamannya.

Budaya bukan etalase toko yang semua isinya harus dijajakan.

2. Kembalikan narasi kepada makna.

Setiap pertunjukan harus membawa narasi. Ketika Perang Ketupat digelar, jangan hanya beri kesempatan melempar. Ceritakan sejarahnya, jelaskan solidaritasnya, terangkan konteks ritualnya.

Ketika Nganggung diarak, jangan berhenti pada visual barisan dulang yang instagramable. Jelaskan filosofi berbagi yang menjadi ruhnya.

Tanpa narasi, budaya menyusut menjadi kostum, gerakan, dan dekorasi. Budaya tanpa pengetahuan adalah estetika yang kehilangan alamat.

3. Libatkan pewaris, bukan sekadar penyelenggara.

Pelestarian yang sehat tidak diukur dari siapa yang menyelenggarakan acara, melainkan dari siapa yang menguasai pengetahuan tentang tradisi itu.

Masyarakat Limbung harus tetap menjadi subjek Mandi Belimau, bukan figuran yang dipanggil saat kamera menyala. Begitu pula masyarakat Tempilang, komunitas nelayan, dan para tetua kampung.

Jika pemilik tradisi hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri, ada yang keliru dalam cara kita menyebut pelestarian.

Penutup: Jangan Mewariskan Bentuk Tanpa Ruh

Kekuatan budaya Bangka Belitung tidak pernah ditentukan oleh seberapa keras gendang ditabuh, seberapa megah panggung didirikan, atau seberapa banyak video budaya memenuhi linimasa.

Kekuatannya terletak pada substansi yang diturunkan lintas generasi: ketulusan berbagi, rasa syukur, gotong royong, keberanian, dan kesadaran manusia di hadapan Sang Pencipta.

Maka sebelum mengklaim sebuah tradisi telah "dilestarikan", ajukan tiga pertanyaan sederhana: Apakah ia masih dipahami? Apakah ia masih dihayati? Apakah ia masih diwariskan dengan benar?

Sebab:

Tradisi yang rutin digelar belum tentu lestari.

Tradisi yang viral belum tentu hidup.

Tradisi yang ramai ditonton belum tentu dipahami.

Pelestarian sejati bukan ketika anak-anak mampu mengulang gerakan atau menghafal nama festival. Pelestarian terjadi ketika mereka tahu mengapa tradisi itu lahir, memahami nilainya, dan mampu meneruskannya tanpa kehilangan jiwanya.

Jangan sampai anak cucu kita mengenal budaya Bangka Belitung hanya secara visual — hafal namanya, kenal kostumnya, tonton videonya — tetapi tidak lagi mengerti mengapa semua itu pernah begitu penting.

Jika hari itu tiba, kita mungkin berhasil menyelamatkan bentuk luar kebudayaan. Namun diam-diam kita telah kehilangan ruhnya.

Dan ketika ruh itu hilang, panggung sebesar apa pun tak akan mampu menghidupkannya kembali.

Bangka Belitung tidak butuh budaya yang sekadar ramai. Kita butuh budaya yang tetap hidup, dipahami, dan membuat generasinya berani berkata: Ini milik kami. Ini jati diri kami.

Editor : Haryanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network