Di Tengah Dinamika Tambang Timah, Tokoh Belitung Timur Ajak Jaga Kondusivitas

Firman
Tokoh adat Kecamatan Damar, Burhaini Baharudin (76). Foto : ist

BELITUNG TIMUR, Lintasbabel.iNews.id — Tokoh adat Kecamatan Damar, Burhaini Baharudin (76), mengajak masyarakat Kabupaten Belitung Timur untuk menjaga kondusivitas di tengah berbagai dinamika dan persoalan yang terjadi dalam aktivitas pertambangan timah.

Burhaini meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi maupun kepentingan tertentu yang berpotensi memicu tindakan anarkis. Menurutnya, kekecewaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan tata kelola pertambangan memang perlu didengar, tetapi penyampaian aspirasi harus dilakukan secara tertib dan damai.

"Belitung ini saya titip. Mudah-mudahan lebih maju dan lebih bagus. Jangan terprovokasi dengan hal-hal negatif. Kantor tidak salah, yang salah itu manusia. Kalau kantor dibakar, apa untungnya?" ujar Burhaini.

Ia menilai perusakan fasilitas hanya akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi masyarakat. Sebab, fasilitas yang rusak membutuhkan waktu dan biaya untuk dibangun kembali.

“Selama 81 tahun Indonesia merdeka, peristiwa seperti ini belum pernah terjadi di Belitung. Baru kali ini ada fasilitas PT TIMAH yang menjadi sasaran pembakaran massa. Ini menjadi titik hitam dalam sejarah Belitung," katanya.

Burhaini memahami bahwa persoalan ekonomi masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat Belitung Timur, khususnya warga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pertambangan timah.

Menurut dia, ketika akses masyarakat terhadap aktivitas pertambangan dan penjualan hasil tambang mengalami kendala, kondisi tersebut dapat memicu kekecewaan. Karena itu, pemerintah dan perusahaan diminta memperhatikan keluhan masyarakat sekaligus memberikan kepastian terkait aturan dan mekanisme yang berlaku.

"Kalau dalam kehidupan perekonomian, saya lihat banyak masyarakat kecewa. Tapi pelampiasannya jangan sampai terjadi demo yang anarkis. Kesenjangan sosial memang sangat nyata," ujarnya.

Burhaini juga menyoroti mekanisme penjualan bijih timah yang masih menjadi keluhan sebagian masyarakat. Menurutnya, masyarakat membutuhkan kepastian agar hasil tambang yang diperoleh dapat dijual dan menjadi sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Orang datang itu mau mencari uang untuk makan, mau beli kebutuhan untuk besok. Jangan sampai datang ke tempat penjualan, sudah antre, kemudian pulang karena tidak bisa menjual," katanya.

Ia berharap tata kelola pertambangan, termasuk mekanisme pembelian bijih timah, dilakukan secara adil dan transparan. Kepastian harga serta mekanisme penjualan dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Selain itu, setiap kebijakan yang diterapkan diharapkan disosialisasikan secara terbuka. Dengan demikian, masyarakat dapat memahami aturan yang berlaku dan tidak terjebak informasi yang simpang siur.

Editor : Haryanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network