Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dosen UBB Dampingi UMKM Pangkalpinang Perkuat Pemasaran Digital, 55 Persen Belum Rutin Pakai Medsos
Advertisement . Scroll to see content

UBB Kembangkan Beras Merah Lokal Bangka, Petani Dibekali Teknologi Smart Farming

Jum'at, 06 November 2026 | 08:54 WIB
  • author Firman
UBB Kembangkan Beras Merah Lokal Bangka, Petani Dibekali Teknologi Smart Farming
Dosen UBB Kembangkan Beras Merah Lokal Bangka, Gunakan Teknologi Smart Farming untuk Tingkatkan Hasil Panen. Foto : ist

BANGKA, Lintasbabel.iNews.id – Dosen Universitas Bangka Belitung (UBB) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengembangkan budidaya padi beras merah lokal di Desa Paya Benua, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Program ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas padi ladang sekaligus menjaga kelestarian plasma nutfah lokal dan mendorong kemandirian pangan masyarakat.

Program pengabdian kepada masyarakat (PKM) tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran akademisi terhadap semakin luasnya alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada penurunan produksi padi lokal dan meningkatnya harga beras akibat berkurangnya pasokan.

Padahal, masyarakat Bangka memiliki tradisi menanam padi ladang atau yang dikenal dengan istilah hume. Meski hanya dilakukan sekali dalam setahun, tradisi ini memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga petani.

Bahkan, hasil panen padi ladang dapat membantu keluarga petani memenuhi kebutuhan beras selama satu tahun tanpa harus membeli beras dari luar.

Namun, berdasarkan identifikasi tim akademisi UBB, petani di Desa Paya Benua selama ini belum mengoptimalkan potensi ekonomi dari hasil panen mereka. Beras merah yang dihasilkan umumnya hanya dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga, bukan dipasarkan sebagai produk unggulan.

Padahal, beras merah dikenal memiliki kandungan antosianin, serat, dan antioksidan yang menjadikannya bernilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan beras putih.

Budidaya padi ladang selama ini bahkan cenderung dipertahankan sebatas tradisi dan dilakukan untuk memanfaatkan lahan sebelum ditanami kelapa sawit.

"Akademisi UBB hadir untuk mengubah pola pikir petani agar mau memasarkan produk yang dihasilkan. Kegiatan PKM kemitraan masyarakat telah dilaksanakan selama dua tahun berturut-turut," ujar Ketua PKM, Prof. Dr. Eries Dyah Mustikarini, SP, M.Si. di kutip (Jumat (6/11/2026). 

Dia menjelaskan, pada 2025 kegiatan pengabdian difokuskan pada pengenalan Good Agriculture Practice (GAP) untuk meningkatkan produktivitas padi lokal.

Melalui program tersebut, petani mendapatkan pendampingan mengenai pengolahan tanah, teknologi pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) yang lebih ramah lingkungan, serta penerapan sistem tanam jajar legowo.

Hasil pendampingan tersebut mulai terlihat dari keberhasilan panen padi beras merah yang dilakukan pada Januari 2026.

Meski demikian, budidaya padi ladang masih menghadapi tantangan berupa serangan hama, terutama tikus dan burung. Risiko serangan semakin besar karena lahan persawahan masyarakat berada berdampingan dengan perkebunan kelapa sawit.

Memasuki 2026, tim akademisi UBB kembali melaksanakan program pengabdian dengan mengusung tema "Upaya Peningkatan Hasil Padi Ladang Lokal Bangka dengan Penerapan Smart Farming untuk Pengendalian Hama Utama Tanaman".

"Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil produksi, tetapi juga mendorong beras merah Desa Paya Benua menjadi produk unggulan yang mampu meningkatkan pendapatan petani," ujarnya. 

Dalam pelaksanaannya, Prof. Eries didampingi Dr. Tri Lestari, SP, M.Si, yang memiliki kompetensi di bidang budidaya tanaman, serta Muhammad Fauzan Ridho, ST, MT, yang berkompeten dalam penerapan teknologi Internet of Things (IoT).

Penerapan Smart Farming difokuskan pada pengendalian hama tikus dan burung serta pemantauan tingkat kesuburan tanah menggunakan teknologi sensor berbasis IoT.

Untuk mengendalikan hama, tim memperkenalkan perangkat gelombang ultrasonik dengan frekuensi yang dirancang mengganggu pendengaran tikus dan burung, tetapi tidak terdengar oleh manusia.

Teknologi ini diharapkan dapat membantu petani menghemat biaya dan tenaga dalam pengendalian hama.

Selain itu, tim juga memperkenalkan sensor tanah seven in one yang mampu mendeteksi tujuh parameter, yakni suhu, kelembapan, pH, konduktivitas listrik (EC), serta kandungan unsur hara makro nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).

Melalui teknologi tersebut, petani dapat mengetahui kondisi kesuburan tanah secara lebih terukur sehingga penggunaan pupuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Jika kandungan unsur hara di dalam tanah masih mencukupi, dosis pupuk dapat dikurangi. Dengan demikian, penggunaan pupuk menjadi lebih efisien dan biaya produksi dapat ditekan.

Kepala Desa Paya Benua, Adeham, menyambut baik pelaksanaan program pengabdian masyarakat tersebut.

Terlebih, Pemerintah Desa Paya Benua telah menjalin kerja sama dengan Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan (FPPK) UBB.

"Saya berharap masyarakat terus mempertahankan dan mengembangkan budidaya padi ladang sebagai salah satu upaya menjaga kemandirian pangan desa," ucapnya. 

Adeham juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit secara terus-menerus yang berpotensi memunculkan permasalahan baru, termasuk meningkatnya serangan hama pada lahan pertanian.

Program pendampingan yang berlangsung sejak 2025 hingga Agustus 2026 tersebut telah menghasilkan produk beras merah lokal bernama Beras Merah Benua Cemerlang.

Dalam proses pengembangannya, tim dosen UBB turut mendampingi petani mulai dari kegiatan panen, penanganan pascapanen, pengeringan hingga penggilingan beras.

Produk beras merah kemudian dikemas dengan kemasan yang bersih, rapi, dan menarik agar mampu bersaing dengan produk beras merah lainnya di pasaran.

Tidak hanya membantu proses produksi, tim PKM juga mendampingi pemasaran produk melalui media sosial secara daring.

Saat ini, Beras Merah Benua Cemerlang dipasarkan dengan harga Rp100.000 per kemasan 5 kilogram.

Konsumennya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja swasta, mahasiswa hingga dosen yang memahami pentingnya mengonsumsi beras merah sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Pemasaran produk ini diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani sekaligus mengurangi dorongan untuk mengalihfungsikan lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit.

Adapun kelompok sasaran program ini adalah Kelompok Tani Mandiri yang diketuai Komarudin. Kelompok tersebut dipilih karena secara konsisten melakukan penanaman padi ladang setiap tahun.

Melalui dukungan pendanaan Kemdiktisaintek dan pendampingan dosen UBB, penerapan teknologi Smart Farming akan terus dikembangkan untuk membantu petani mengendalikan organisme pengganggu tanaman secara lebih efektif.

Selain meningkatkan efisiensi tenaga dan biaya pengendalian hama, teknologi ini diharapkan mampu mengurangi penggunaan bahan kimia, menjaga kesehatan tanaman, serta menciptakan lingkungan budidaya yang lebih berkelanjutan.

Tim PKM UBB juga berharap setelah program pengabdian selesai, petani tetap konsisten memproduksi beras merah dan mampu memasarkan hasil panennya secara mandiri melalui platform digital.

Dengan demikian, pengembangan Beras Merah Benua Cemerlang tidak hanya menjadi upaya mempertahankan tradisi hume, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Paya Benua sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal di Pulau Bangka.

Editor: Haryanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut