get app
inews
Aa Text
Read Next : Semangat Berbagi di Idul Adha, Masjid Nurul Jannah Pangkalpinang Sembelih 9 Sapi dan 5 Kambing

Sembahyang Rebut di Pangkalpinang, Tradisi Chit Ngiat Pan Jadi Simbol Kebersamaan dan Toleransi

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 10:08 WIB
header img
Warga beragam etnis antusiasme mengikuti tradisi Chit Ngiat Pan atau Sembahyang Rebut di Klenteng Bong Fa Pakkung, Jumat (28/8/2026) tengah malam. Foto : Lintasbabel.iNews.id/ Firman

PANGKALPINANG, Lintasbabel.iNews.id - Masyarakat keturunan Tionghoa di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), menggelar tradisi Chit Ngiat Pan atau Sembahyang Rebut di Klenteng Bong Fa Pakkung, Jumat (28/8/2026) tengah malam.

Tradisi tahunan tersebut digelar setiap pertengahan bulan ketujuh, tepatnya tanggal 15 berdasarkan kalender China. Perayaan ini menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya masyarakat Tionghoa yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Pengurus Klenteng Bong Fa Pakkung, Akhiong, mengatakan Sembahyang Rebut merupakan ritual untuk memanjatkan doa kepada Tuhan agar masyarakat diberikan kebaikan dan kelancaran dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

"Sembahyang Rebut ini merupakan ritual masyarakat Tionghoa dan biasa ritual ini digelar setiap pertengahan bulan ketujuh kalender China atau biasa juga disebut dengan bulan hantu dan pintu akhirat terbuka lebar," kata Akhiong, Jumat malam.

Menurutnya, puncak perayaan Chit Ngiat Pan berlangsung tepat pada pukul 00.00 WIB. Pada momen tersebut, masyarakat yang telah berkumpul akan memperebutkan berbagai makanan pokok dan hasil bumi yang sebelumnya telah disiapkan panitia.

"Puncak perayaannya malam ini dan masyarakat yang telah berkumpul menunggu aba-aba dari panitia. Kemudian barang-barang yang telah disediakan boleh diperebutkan masyarakat," ujarnya.

Akhiong menuturkan, tradisi Sembahyang Rebut di Pangkalpinang tidak hanya menarik perhatian masyarakat Tionghoa. Warga Melayu dan masyarakat dari berbagai latar belakang etnis juga turut menyaksikan jalannya ritual tersebut.

Menurut dia, keterlibatan masyarakat lintas etnis menunjukkan kuatnya toleransi dan kebersamaan yang selama ini terjaga di Bangka Belitung.

"Agenda tahunan ini bukan hanya disaksikan masyarakat Tionghoa saja, namun turut disaksikan masyarakat Melayu. Karena semua umat etnis menyatu sehingga toleransi umat beragama begitu menyatu di Bangka Belitung," katanya.

Dia menjelaskan, tradisi Chit Ngiat Pan telah diwariskan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Karena itu, generasi muda diharapkan terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

"Ritual ini sudah ada beberapa ratus tahun lalu. Kita sebagai generasi muda atau penerus akan terus memelihara kebudayaan ini sebagai sesuatu kebanggaan. Sebab tujuannya agar kita mengingatkan kembali suatu kebersamaan dari teman-teman donatur yang memberikan sumbangsih untuk perayaan ini agar pelestarian kebudayaan tetap terjaga," tutur Akhiong.

Perayaan Sembahyang Rebut di Klenteng Bong Fa Pakkung pun menjadi momentum bagi masyarakat untuk mempertahankan warisan budaya sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi antar-etnis di Pangkalpinang dan Bangka Belitung.

Editor : Haryanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut