Inflasi Bangka Belitung Juni 2026 Tetap Stabil di 2,92 Persen, Lebih Rendah dari Nasional
PANGKALPINANG, Lintasbabel.iNews.id – Inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Juni 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year on year/yoy) tercatat sebesar 2,92 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen.
Sementara itu, secara bulanan (month to month/mtm), Bangka Belitung mengalami inflasi sebesar 0,35 persen. Capaian tersebut masih berada dalam target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Dengan capaian tersebut, Bangka Belitung menjadi daerah dengan inflasi tahunan terendah ketujuh secara nasional dan berhasil menjaga inflasi tetap berada dalam koridor sasaran sepanjang semester I 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, mengatakan stabilnya inflasi merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam menjaga pasokan, keterjangkauan harga, serta kelancaran distribusi komoditas strategis.
"Bank Indonesia akan terus mendorong penguatan pengendalian inflasi di daerah bersama pemerintah dan seluruh mitra strategis yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)," ujar Rommy dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7/2026).
Secara bulanan, inflasi pada Juni 2026 dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Selat Hormuz. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya tarif angkutan udara karena kenaikan harga avtur, serta penyesuaian harga Pertamax setelah pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026.
Selain sektor transportasi, tekanan inflasi juga berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terutama kenaikan harga daging ayam ras. Kenaikan harga dipicu terbatasnya pasokan pasca-Iduladha di tengah meningkatnya permintaan masyarakat menjelang perayaan Tahun Baru Hijriah.
Sementara secara tahunan, inflasi terutama dipengaruhi kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,17 persen, khususnya komoditas emas perhiasan yang masih tinggi akibat ketidakpastian ekonomi global.
Inflasi juga didorong kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,49 persen, terutama komoditas cumi-cumi, serta kelompok transportasi sebesar 4,20 persen yang dipengaruhi tingginya tarif angkutan udara.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah telah menggelar 10 kali High Level Meeting (HLM) hingga Juni 2026 guna merumuskan kebijakan pengendalian inflasi yang tepat sasaran.
Selain itu, BI bersama pemerintah daerah juga melaksanakan 64 kali Operasi Pasar Murah (OPM) dan Gerakan Pangan Murah guna memastikan masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau. Upaya tersebut diperkuat melalui perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) guna menjaga pasokan pangan ke Bangka Belitung.
Di sisi lain, Bank Indonesia turut mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pendampingan UMKM sektor pertanian serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya berbelanja dan berkonsumsi secara bijak.
Rommy menambahkan, penguatan strategi 4K pengendalian inflasi diharapkan mampu mengoptimalkan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) sekaligus mendukung Program Strategis Nasional.
Menurutnya, tantangan inflasi ke depan masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global dan kondisi geopolitik. Karena itu, sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan harus terus diperkuat agar inflasi tetap rendah dan stabil.
"Inflasi yang terjaga stabil menjadi modal penting dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah tantangan perekonomian dan ketidakpastian global," katanya.
Editor : Haryanto