Melihat Tradisi Tatung, Budaya Warisan Leluhur Warga Keturunan Tionghoa di Bangka

Maulana
.
Sabtu, 24 September 2022 | 09:00 WIB
Tradisi Tatung, budaya warisan leluhur warga keturunan Tionghoa di Bangka. Foto : lintasbabel.id/ Maulana.

BANGKA, lintasbabel.id - Masyarakat keturunan Tionghoa yang merupakan bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia, sangat memelihara dengan baik kultur warisan leluhurnya. Salah satunya tradisi Tatungwa Dewi atau Pat Ngiat Pan, di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.

Kali ini, warga di sana menggelarnya di Kelenteng Fuk Tet Miao, Kelurahan Bukit Ketok, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Jum'at (23/9/2022) Malam.

Namun biasanya, Tradisi unik yang dimulai sekira pukul 18.00 dan berakhir pukul 22.30 WIB ini, juga dirayakan dibeberapa kelenteng yang ada di Bangka Belitung.

Tatung dalam bahasa Hakka berarti orang yang dirasuki roh Dewa atau leluhur. Dimana raga atau tubuh orang tersebut dijadikan alat komunikasi atau perantara antara roh leluhur atau dewa tersebut. 

Dengan menggunakan mantra dan mudra tertentu, roh Dewa dipanggil ke altar kemudian akan memasuki raga orang tersebut.

Para Dewa atau roh leluhur biasa dipanggil dengan kepentingan tertentu, misalnya untuk melakukan kegiatan pengobatan, pengusiran roh jahat, pembuatan Hu, dan lain-lain. Setelah kegiatan yang dilakukan selesai, roh akan meninggalkan tubuh orang tersebut.

Tradisi Tatung yang dilaksanakan pada hari ke-15 bulan 8 imlek ini bisa dikatakan sudah punah dan daerah-daerah di Indonesia yang masih memiliki tradisi ini, yakni Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.

Ketua Yayasan Kelenteng Fuk Tet Miao, Tjong Khion Fo mengatakan, tradisi Tatung merupakan tradisi dari leluhur yang harus di lestarikan, yang mana bulan kebesaran para Dewa Dewi yang mengajarkan tetang kebaikan.

Halaman : 1 2 3
Bagikan Artikel Ini