PANGKALPINANG, Lintasbabel.iNews.id – Ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan berlangsung dalam waktu yang cukup panjang dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah serta memicu tekanan inflasi di Indonesia.
Ekonom Strategis Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang menilai dinamika politik global, perang dagang, hingga konflik geopolitik menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian ekonomi dunia.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Bangka Belitung yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Babel, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, tekanan global sudah mulai terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Ketidakpastian global ini kemungkinan akan berlangsung cukup panjang. Karena itu kita perlu menjaga optimisme, komitmen, dan sinergi agar ekonomi tetap dapat bertahan,” ujar Hosianna.
Menurutnya nilai tukar rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp16.200 per dolar AS pada awal 2025 kini mendekati Rp17.000 per dolar AS.
Di satu sisi, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor. Namun di sisi lain kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor, terutama bahan baku industri dan energi.
Selain itu, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah juga dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia yang dapat berdampak pada inflasi domestik.
“Jika harga minyak global meningkat, tentu ada potensi tekanan terhadap inflasi di Indonesia, karena kita masih menjadi negara pengimpor minyak,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy mengatakan kegiatan diseminasi tersebut merupakan bagian dari komitmen Bank Indonesia dalam menjalankan peran sebagai penasihat ekonomi bagi pemerintah daerah.
“Kegiatan ini menjadi forum untuk membahas perkembangan ekonomi Bangka Belitung secara triwulanan sekaligus mempersiapkan agenda besar di akhir tahun, yakni Babel Economic Forum,” kata Rommy.
Ia menyebut perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada 2025 tercatat tumbuh sebesar 4,09 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh sejumlah sektor seperti pertanian, perdagangan, perikanan, pariwisata, ekonomi syariah, serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Selain itu, konsumsi rumah tangga dan akselerasi investasi juga turut memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.
“Pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tetap terjaga menunjukkan ekonomi Bangka Belitung terus bergerak ke arah yang lebih baik,” ujarnya.
Dari sektor keuangan, sistem perbankan di Bangka Belitung juga menunjukkan kinerja yang positif. Penyaluran kredit pada Januari 2026 tumbuh 15,77 persen secara tahunan, sementara dana pihak ketiga meningkat 4,53 persen.
Rasio kredit bermasalah (NPL) juga masih terjaga di level 2,84 persen.
Di sisi lain, digitalisasi sistem pembayaran di daerah tersebut juga terus berkembang. Jumlah pengguna QRIS tercatat mencapai 232.288 pengguna dengan nilai transaksi tumbuh 113,31 persen dan volume transaksi meningkat hingga 164 persen.
Rommy menambahkan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna menjaga stabilitas harga pangan di tengah tantangan pasokan di kawasan Sumatera.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga optimisme dan memperkuat sinergi demi menjaga pertumbuhan ekonomi daerah.
“Optimisme, komitmen, dan sinergi harus terus kita jaga agar ekonomi Bangka Belitung dapat terus berkembang dan semakin kuat ke depan,” ucapnya.
Editor : Haryanto
Artikel Terkait
