UMKM Babel Unjuk Gigi di ISEF 2026, Dorong Produk Halal Lokal Tembus Pasar Global
JAKARTA, Lintasbabel.iNews.id – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memperkuat kontribusinya dalam mendorong Indonesia menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia melalui partisipasi dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026. Ajang tahunan yang memasuki penyelenggaraan ke-13 ini berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), 14–18 Oktober 2026.
Mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”, ISEF 2026 menjadi ruang bagi pelaku usaha, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem industri halal, memperdalam pasar keuangan syariah, serta memperluas pemanfaatan teknologi digital.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, mengatakan keikutsertaan Babel dalam ISEF merupakan langkah strategis untuk memperluas akses pasar produk halal daerah sekaligus meningkatkan daya saing UMKM lokal.
“Partisipasi Bangka Belitung dalam ISEF 2026 menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan potensi produk halal daerah kepada pasar yang lebih luas. Kami ingin UMKM Babel tidak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga berkembang, naik kelas, dan memiliki peluang menembus pasar nasional hingga internasional,” ujar Rommy, dikutip Jumat (16/10/2026).
Dalam gelaran tersebut, Babel mendapat dukungan dari Kantor Perwakilan BI Babel dengan menghadirkan sejumlah UMKM unggulan dari berbagai sektor. Tiga UMKM halal food yang berpartisipasi yakni Cokelat CandU, Morenji, dan Billiton Spice.
"Selain itu, terdapat UMKM modest fashion Sepiak Belitong serta lima UMKM yang dipasarkan melalui kategori Halal Mart, yaitu Adena, Billiton Spice, Madu RR1669, Kritcu Super Sindi, dan Wijaya Crab," tutur Rommy.
Dia mengatakan, kehadiran pelaku usaha tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk khas Babel kepada konsumen yang lebih luas, sekaligus membuka peluang kemitraan dan pengembangan jaringan bisnis dalam ekosistem ekonomi syariah.
Menurut Rommy, penguatan UMKM halal perlu didukung oleh peningkatan kualitas produk, perluasan pemasaran, serta pemanfaatan kanal digital agar pelaku usaha daerah mampu mengikuti perkembangan pasar.
“Pengembangan ekonomi syariah tidak cukup hanya dengan memperbanyak produk. Kita juga perlu memperkuat kualitas, akses pemasaran, jejaring usaha, dan digitalisasi. Dengan dukungan tersebut, UMKM daerah diharapkan semakin siap bersaing dan menjadi bagian dari rantai nilai industri halal,” katanya.
Rommy mengatakan, tidak hanya memperkenalkan produk UMKM, Babel juga mempromosikan program Wakaf Produktif Hijau melalui Wakaf Waste Box (WWB). Program ini merupakan hasil sinergi Kantor Perwakilan BI Babel dengan WakafMU Babel dan dapat diakses secara digital melalui booth Wakafein.
"Inisiatif tersebut menggabungkan penguatan aplikasi sosial syariah dengan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui pendekatan ini, masyarakat diharapkan semakin mengenal pemanfaatan wakaf produktif yang tidak hanya memiliki nilai sosial dan ekonomi, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan," ucapnya.
Rommy menilai pengembangan inovasi sosial berbasis syariah menjadi bagian penting dalam memperluas manfaat ekonomi syariah bagi masyarakat.
“Ekonomi dan keuangan syariah memiliki ruang pengembangan yang luas, termasuk melalui wakaf produktif. Dengan dukungan digitalisasi dan kolaborasi berbagai pihak, instrumen sosial syariah dapat dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Upaya pengembangan ekosistem ekonomi syariah Babel juga dilakukan melalui penguatan jaringan bisnis pesantren. BI Babel mengirimkan perwakilan Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pondok Pesantren (HEBITREN) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk mengikuti Forum Bisnis Pesantren.
Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan Silaturahmi Pesantren pada 13 Oktober 2026 sebagai bagian dari kegiatan prapelaksanaan atau pre-event ISEF 2026.
Keterlibatan HEBITREN diharapkan dapat memperluas jejaring usaha pesantren, membuka peluang kolaborasi antarpelaku bisnis, serta mendorong pengembangan unit usaha pesantren agar semakin produktif dan berdaya saing.
Pembukaan ISEF 2026 dihadiri sejumlah pejabat nasional, di antaranya Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dradjad Wibowo.
Sejumlah pejabat lembaga negara dan otoritas juga hadir, termasuk perwakilan Dewan Perwakilan Rakyat RI, Lembaga Penjamin Simpanan, Otoritas Jasa Keuangan, Badan Pusat Statistik, Badan Wakaf Indonesia, serta Badan Pengelola Keuangan Haji.
Pembukaan ISEF dilanjutkan dengan IN2MOTIONFEST (Indonesia International Modest Fashion Festival) yang berkolaborasi dengan Jakarta Modest Fashion Week (JMFW). Kegiatan ini turut memperkuat promosi industri fesyen muslim sebagai salah satu bagian dari rantai nilai industri halal.
Rommy menyampaikan, dalam ISEF ke-13 ini Bank Indonesia juga meluncurkan tiga inisiatif untuk mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, yakni Islamic Financial Market Conduct sebagai pedoman perilaku transaksi pasar keuangan syariah, Indeks Implementasi Zakat Principle, serta International Sharia Scholarship bagi mahasiswa asing yang ingin mempelajari praktik-praktik syariah di Indonesia.
Dari sisi pariwisata halal, ISEF 2026 juga menjadi sarana promosi yang menghubungkan potensi destinasi dengan pelaku usaha dan berbagai sektor pendukungnya. Pengembangan pariwisata halal diharapkan tidak hanya menghasilkan transaksi dan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat integrasi antarpelaku usaha.
“ISEF menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, regulator, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat. Kami berharap berbagai inisiatif yang dikembangkan dapat mendorong ekonomi syariah tumbuh semakin inklusif dan berkelanjutan, termasuk dengan memperluas peran UMKM dan potensi daerah seperti Bangka Belitung,” tutur Rommy.
Partisipasi Babel dalam ISEF 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi daerah terhadap pengembangan ekonomi syariah nasional. Melalui promosi UMKM halal, inovasi wakaf produktif, penguatan bisnis pesantren, serta pemanfaatan digitalisasi, Babel berpeluang memperbesar perannya dalam rantai nilai industri halal Indonesia.
Editor: Haryanto