Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Evaluasi Efektivitas Koordinasi Kelembagaan dalam Percepatan Implementasi UU Pemajuan Kebudayaan
Advertisement . Scroll to see content

Antara Pelestarian dan Pertunjukan, Menjaga Ruh Budaya Bangka Belitung di Era Konten

Minggu, 13 September 2026 | 09:12 WIB
  • author Sukma Wijaya
Antara Pelestarian dan Pertunjukan, Menjaga Ruh Budaya Bangka Belitung di Era Konten
Sukma Wijaya, Perawat Budaya & Praktisi Kehumasan - Unmuh Babel. Foto : ist

II. Jebakan Komodifikasi: Ketika Anggaran Lebih Berisik daripada Makna

Di sinilah kebudayaan terjebak dalam apa yang saya sebut sinetron berkemenyan. Jargon pelestarian begitu fasih kita ucapkan. Tapi yang dipelihara jangan-jangan bukan nilai dan pengetahuannya, melainkan kesinambungan kalender event.

Kita sibuk menghitung jumlah festival, jumlah pengunjung, statistik unggahan, engagement, dan besaran anggaran. Tapi ada satu angka yang jauh lebih penting dan jarang ditanyakan: berapa banyak anak muda yang pulang membawa pemahaman?

Setelah Nganggung, apakah mereka paham mengapa berbagi adalah jantung tradisinya?

Setelah Perang Ketupat, apakah mereka mengerti sejarah dan pesan kebersamaan di baliknya? Atau mereka hanya pulang dengan kesimpulan: ketupat bisa dilempar, kamera bisa merekam, video bisa diunggah?

Inilah risiko ketika budaya terlalu tergesa dimasukkan ke mesin industri konten. Budaya dipaksa menjadi tontonan sebelum sempat diajarkan sebagai pengetahuan. Padahal, tradisi tidak otomatis lestari hanya karena sering ditampilkan.

Kita juga harus berani menghadapi sisi lain warisan. Tidak semua praktik masa lalu harus diterima tanpa kritik. Kajian atas Tangkel dalam pernikahan Melayu Bangka, misalnya, menunjukkan bahwa praktik yang menyandarkan keselamatan kepada selain Allah perlu dibaca melalui perspektif al-'urf, bahkan berpotensi sebagai 'urf fasid.

Persoalan seperti ini tidak selesai dengan panggung yang lebih megah atau kamera yang lebih banyak. Jika tradisi yang mengandung problem akidah langsung dikemas sebagai paket wisata tanpa proses tashfiyah — pemurnian pemahaman — dan edukasi, kita harus jujur mengatakan:

Kita bukan sedang melestarikan budaya. Kita sedang melestarikan kesalahpahaman.

Menghormati warisan budaya tidak berarti membekukan semua praktik dari evaluasi. Warisan budaya patut dihargai. Warisan pemikiran tetap harus diuji dengan ilmu. Terkadang melestarikan justru berarti memperbaiki cara kita memahami warisan itu.

Editor: Haryanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut