Konflik Manusia dan Buaya Disebabkan Habitat yang Rusak
Sementara, untuk di Kabupaten Bangka Barat, buaya terbilang masih belum terlalu agresif. Namun sudah terjadi penyimpangan kebiasaan, lantaran reptil air tawar itu, sudah sering turun ke laut.
"Kalau di Bangka barat paling banyak masuk ke wilayah nelayan ke laut, kalau dulu buaya tidak pernah ke laut, tapi sekarang meraka ke laut karena habitat sudah benar-benar rusak," ujar Endi.
Endi menilai, kerusakan habitat satwa tersebut disebabkan, maraknya aktivitas tambang timah ilegal yang berdampak para hewan itu harus mencari tempat baru.
"Penyebab utama konflik tinggi di Bangka Belitung, karena aktivitas tambang ilegal yang merusak semua habitat, jadi ketika habitat dirusak, mereka akan lari ke tempat baru, dan itu akan menjadi konflik dengan manusia yang ada di situ," ucapnya.
Editor : Muri Setiawan