Viral! Pohon Durian Ini Hasilkan 15 Rasa Berbeda, Musang King hingga Bawor
BANJARNEGARA, Lintasbabel.iNews.id – Sebuah pohon durian di Dusun Siweru, Desa Gembongan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah mendadak viral. Pohon berusia lebih dari 15 tahun itu unik karena mampu menghasilkan hingga 15 rasa durian berbeda dalam satu batang.
Tidak seperti pohon durian pada umumnya yang hanya menghasilkan satu varietas, pohon ini merupakan hasil rekayasa sambung pucuk berbagai jenis durian unggulan.
Saat musim panen tiba, pohon tersebut langsung diburu pencinta durian dari berbagai daerah. Proses pemanenan dilakukan dengan hati-hati menggunakan tali agar buah tidak rusak ketika jatuh dari pohon yang cukup tinggi.
Salah satu pengunjung, Rizki Amalia mengaku terkejut dengan variasi rasa yang dihasilkan. “Dari beberapa jenis ada yang lembut, ada pahit-pahitnya, ada pahit manis, aromanya juga melekat sekali. Baru lihat satu pohon bisa sampai 15 rasa,” ujarnya.
Dalam satu pohon terdapat berbagai varietas durian, mulai dari Simimang, Duri Hitam, Bawor, Musang King hingga jenis lokal lainnya. Teksturnya pun beragam, dari legit dan creamy hingga rasa unik seperti susu dan mentega.
Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana menyebut fenomena ini sebagai pengalaman kuliner yang langka. “Yang luar biasa, 15 varian rasa ini benar-benar berbeda. Ada dominan manis, ada pahit, kulit tebal maupun tipis, teksturnya juga beragam,” katanya.
Dusun Siweru sendiri dikenal sebagai sentra durian unggulan Banjarnegara, namun pohon dengan 15 rasa menjadi primadona utama.
Pemilik pohon, Triyono mengatakan bahwa pohon tersebut telah dipanen belasan kali. “Dari 15 varian ini sudah panen 12 kali. Yang saya buat 15 varietas hanya satu pohon, sementara pohon lain 3 sampai 4 varietas,” ucapnya.
Harga durian dari pohon unik ini dibanderol mulai Rp100.000 per buah untuk jenis lokal, sedangkan varietas unggulan bisa mencapai Rp300.000 per kilogram.
Bagi pencinta durian, mencicipi 15 rasa dari satu pohon ini menjadi pengalaman yang tak biasa sekaligus daya tarik wisata baru di Banjarnegara
Editor : Muri Setiawan