Tanam Pohon Trembesi di Kawasan Sungai Rangkui, Erzaldi: Upaya 10 Tahun Ini Membuahkan Hasil

Komisaris Utama PT Inalum, Doni Monardo tampak lama terdiam menatapi pohon tersebut. Pohon Trembesi berusia kurang lebih 10 tahun ini, menjadi bukti komitmen serta kerja sama pemerintah pusat dan daerah untuk mengembalikan keasrian alam.
“Kita harus bekerja keras untuk negara kita, tongkat estafet yang diserahkan dari pemimpin kita di masa lalu menjadi tanggung jawab kita bersama menjalankannya sekarang,” ungkapnya.
Tidak hanya pohon, permasalahan air juga tidak luput dari pandangan Komisaris Utama PT Inalum, Doni Monardo. Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman yang turut menemaninya menjelaskan keadaan air baku yang ada di Pulau Bangka dan Belitung ini.
Tentu permasalahan kolong-kolong bekas tambang timah baru menambah PR pemerintah. Kondisi air di Kepulauan Bangka Belitung dalam keadaan asam. Kolong muda yang baru terbentuk dengan usia kurang dari 5 tahun memiliki pH 2–4 dan mengandung logam berat yang tinggi. Kolong menengah yang memiliki usia 5–20 tahun memiliki karakteristik logam di air masih cukup tinggi dan pH berkisar pada 4–5. Sedangkan kondisi air yang aman terdapat pada kolong tua yang memiliki kondisi biogeofisik yang sudah normal dengan pH berkisar pada 5.5–7.
“Saya jarang sekali menemukan prajurit unggulan yang berasal dari Babel. Bukan karena kepintaran yang kurang, tapi karena kondisi fisiknya. Terutama pada gigi. Mengonsumsi air asam dapat menyebabkan gigi mudah keropos. Nah, gigi ini kan menjadi salah satu faktor syarat penerimaan taruna,” jelas Komisaris Utama PT Inalum, Doni Morando.
Solusi yang pertama yang diajukan Komisaris Utama PT Inalum, Doni Morando adalah dengan menata kembali wilayah Babel, agar kawasan yang sudah terlanjur rusak bisa pulih. Bisa dikatakan jumlah masyarakat yang menikmati dan mengonsumsi langsung air dari alam sangat terbatas.
“Berapa persen warga bangka yang tidak beli air tiap hari? Setidaknya 1,3juta penduduk harus beli air minum. Padahal jika, masyarakat bisa mengonsumsi langsung air alam, akan sangat mengurangi pengeluaran masyarakat.
Dirinya menjelaskan juga, kerusakan ekosistem sebagai dampak dari aktivitas penambangan timah dapat berimbas pada ekonomi masyarakat. Masyarakat harus sadar bahwa, konsekuensi dari pendapatan yang di terima dari penambangan timah adalah kondisi air yang rusak. Jika dibiarkan tentu akan memengaruhi ekonomi masyarakat yang diwajibkan membeli air minum setiap hari.
“Bukannya kita tidak bersyukur atas karunia Allah dengan memberikan kita SDA tambang yang luar biasa. tapi pemanfaatanya yang masih kurang bijak. Kita memang sudah menjalankan prosedur dengan benar, mengikuti aturan yang ada, tapi masih jauh dari apa yang kita harapkan,” ungkap Gubernur Erzaldi.
Menanggapi hal ini, diskusi mendalam yang dilakukan dengan Komisaris Utama PT Inalum, Doni Morando diharapkan dapat menciptakan kebijakan. Melihat tanggapan Komisaris Utama PT Inalum Doni Morando, Gubernur Erzaldi semakin yakin bahwa kebijakan perbaikan ekosistem akan didukung oleh berbagai stakeholders dari pusat maupun daerah.
Editor : Muri Setiawan