get app
inews
Aa Text
Read Next : Jelang Porprov Babel 2026, KONI Bangka Mulai Tancap Gas Target Juara

‎Kelekak Rusak Bukan Takdir, Tapi Pilihan: Seruan untuk Generasi Bangka

Senin, 09 Februari 2026 | 19:57 WIB
header img
Penulis Opini : Sayied Agiel Yusuf (Mahasiswa Unmuh Babel). Foto : ist

PANGKALPINANG, Lintasbabel.iNews.id - Kelekak bukan sekadar ruang hijau, melainkan sistem hidup yang menyangga pangan, menjaga air, menyimpan pengetahuan lokal, dan menopang keanekaragaman hayati Bangka. Namun hari ini, kelekak berada di ambang rapuh—terdesak ekspansi lahan, logika ekstraksi, dan kelalaian generasi pewarisnya.

‎Jauh sebelum wacana sustainable development, masyarakat Bangka telah mempraktikkan kecerdasan ekologis melalui kelekak. Pengetahuan etnobotani, hubungan manusia–alam, serta keberadaan satwa dan tumbuhan endemik menegaskan kelekak sebagai realitas ekologis yang hidup.

‎Sayangnya, perlindungan kelekak belum tegas. Meski UU No. 32 Tahun 2009, UU No. 5 Tahun 1990, UU No. 26 Tahun 2007, dan UU No. 23 Tahun 2014 memberi dasar perlindungan ekosistem dan kearifan lokal, kelekak masih berada di wilayah abu-abu kebijakan daerah—tidak diakui secara eksplisit, tidak tercantum jelas dalam tata ruang, dan rentan dialihfungsikan.

‎Kondisi ini menuntut keberanian politik. Pemerintah daerah perlu mendorong Perda Perlindungan dan Pengelolaan Kelekak Bangka yang menetapkan kelekak sebagai kawasan lindung berbasis kearifan lokal, memasukkannya ke dalam RTRW, membatasi alih fungsi, serta menjamin pengelolaan berbasis komunitas.

‎Refleksi itu menguat ketika anak muda kembali bersentuhan langsung dengan kelekak melalui ruang belajar seperti Kemah Ekologis. Di sana, pemuda menyaksikan secara langsung perbedaan antara kelekak yang terawat dan kelekak yang rusak: tanah yang gersang, jejak satwa yang menghilang, penebangan liar, tambang ilegal serta ruang hidup yang perlahan menyempit. Pengalaman ini menegaskan bahwa krisis ekologis bukan wacana, melainkan kenyataan di depan mata.

Pada titik ini, kelekak seolah bertanya kepada kita semua: jika bukan sekarang dijaga, lalu kapan; jika bukan kita yang bertanggung jawab, lalu siapa. Kerusakan kelekak bukan hanya akibat kebijakan yang abai, tetapi juga cermin dari pilihan kolektif kita—antara terus menunda, atau mulai memihak pada keberlanjutan.

‎Pemuda Bangka tidak boleh diam ketika kelekak terancam. Kesadaran ekologis harus naik kelas menjadi keberanian politik: mengawal tata ruang, menagih komitmen negara, dan melawan pembangunan yang merusak ruang hidup. Kelekak menunggu keberpihakan—dan sejarah akan mencatat siapa yang memilih diam, dan siapa yang memilih menjaga.

Penulis Opini : Sayied Agiel Yusuf (Mahasiswa Unmuh Babel)

Editor : Haryanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut