Anshori menjelaskan, anak-anak sempat mengalami ketakutan dan kesedihan setelah menyaksikan kebakaran yang melanda permukiman mereka. Karena itu, proses pemulihan tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan material, tetapi juga perlu didukung pendampingan psikologis.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Selatan turut mengupayakan pendampingan psikologis atau trauma healing bagi anak-anak terdampak. Ia juga mengapresiasi PT Timah yang telah memberikan layanan serupa kepada para penyintas kebakaran.
Seiring berjalannya waktu, semangat anak-anak untuk kembali bersekolah mulai tumbuh. Dukungan dari pemerintah, perusahaan, dan berbagai pihak lainnya diharapkan dapat membantu mereka melewati masa sulit sekaligus memastikan pendidikan tetap berlanjut.
Semangat untuk kembali belajar juga dirasakan Wenda, siswi kelas II SMP Negeri 2 Simpang Rimba. Ia mengaku masih sedih karena perlengkapan sekolahnya hangus terbakar dan belum dapat mengikuti kegiatan belajar selama beberapa hari setelah kejadian.
"Alat-alat sekolah semuanya terbakar, tidak ada yang bisa diselamatkan. Waktu kejadian saya lagi di luar hanya ada orang tua. Sedih juga sudah 4 hari ini enggak sekolah. Terima kasih PT Timah bantuannya buat saya sedikit lebih bersemangat," ujarnya.
Bantuan seragam dan perlengkapan sekolah dari PT Timah diharapkan dapat menjadi dorongan bagi anak-anak korban kebakaran untuk kembali menjalani aktivitas pendidikan dengan lebih percaya diri.
Di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung, dukungan terhadap kebutuhan pendidikan dan kondisi psikologis anak-anak menjadi bagian penting agar mereka dapat kembali belajar, meraih cita-cita, dan menatap masa depan dengan optimistis.
Editor : Haryanto
Artikel Terkait
