Pasca Kebakaran di Bangka Selatan, BEM ICI Dampingi Anak-anak Pulihkan Rasa Aman
BANGKA SELATAN, Lintasbabel.iNews.id – Pemulihan pascakebakaran tidak cukup hanya dengan memadamkan api dan memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi psikologis warga terdampak, terutama anak-anak.
Berangkat dari kepedulian tersebut, BEM Institut Citra Internasional (ICI) bersama dosen pengabdian kepada masyarakat menggelar pendampingan psikososial bagi anak-anak terdampak kebakaran di Dusun Serdang, Kabupaten Bangka Selatan, Senin (19/10/2026).
Presiden Mahasiswa BEM Institut Citra, Dina Lorenza mengatakan kegiatan ini dilakukan untuk membantu anak-anak kembali merasakan suasana aman dan nyaman setelah menghadapi peristiwa kebakaran yang berpotensi mengganggu kondisi emosional mereka.
"Kehilangan tempat tinggal dan lingkungan yang selama ini akrab dapat memunculkan rasa takut, kebingungan, hingga ketidaknyamanan pada anak. Karena itu, pemulihan pascabencana perlu mencakup dukungan psikososial, selain pemenuhan kebutuhan dasar dan pembangunan kembali fasilitas yang rusak," kata Dina, Selasa (20/10/2026).
Dina menuturkan dalam kegiatan tersebut, pendampingan dilakukan melalui berbagai aktivitas yang dekat dengan dunia anak, seperti bercerita, bermain bersama, mengenali perasaan, dan mengikuti kegiatan kreatif.
"Melalui pendekatan tersebut, anak-anak diberikan ruang untuk berinteraksi, mengekspresikan diri, serta membangun kembali rasa kebersamaan di tengah situasi pascabencana," ucapnya.
Dia mengatakan perhatian terhadap kondisi psikologis anak perlu menjadi bagian penting dalam proses pemulihan setelah kebakaran.
“Ketika rumah yang terbakar mulai dibangun kembali, jangan sampai rasa aman anak-anak justru terlupakan,” ujar Dina Lorenza.
Menurutnya, anak-anak bukan sekadar penerima bantuan dalam situasi bencana. Mereka merupakan individu yang memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan, perhatian, dan lingkungan yang mendukung proses tumbuh kembang mereka.
Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengatur rehabilitasi pascabencana, termasuk pemulihan kondisi sosial dan psikologis masyarakat terdampak.
Dengan demikian, keberhasilan pemulihan tidak semata-mata diukur dari perbaikan bangunan atau tersalurkannya bantuan, tetapi juga dari upaya memulihkan kondisi dan kesejahteraan warga yang terdampak.
Meski demikian, pendampingan melalui satu kegiatan belum dapat menjawab seluruh kebutuhan psikososial anak. Dukungan berkelanjutan dari keluarga, lingkungan sekitar, tenaga pendamping, dan pihak terkait tetap diperlukan sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
Apabila ditemukan kebutuhan yang lebih kompleks, pendampingan profesional juga perlu dipertimbangkan agar anak memperoleh dukungan yang sesuai.
Di sisi lain, keterlibatan BEM Institut Citra Internasional bersama dosen pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam merespons kebutuhan warga pascabencana.
Kampus diharapkan tidak hanya menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menghadirkan kepedulian dan pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan yang membutuhkan perhatian lebih.
Pada akhirnya, pemulihan pascakebakaran bukan hanya tentang seberapa cepat bangunan kembali berdiri, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat, termasuk anak-anak, dapat kembali menjalani kehidupan dengan rasa aman.
Api mungkin dapat dipadamkan dalam waktu singkat dan bangunan dapat diperbaiki secara bertahap. Namun, memulihkan rasa aman anak-anak membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kepedulian yang terus berlanjut, bahkan setelah kegiatan sosial berakhir.
Editor: Haryanto