get app
inews
Aa Text
Read Next : Piala Asia U-23 2024, Skuad Garuda Muda Dipuji Pelatih Australia

Hacker Bobol Data 9 Juta Klien Asuransi Kesehatan, Minta Tebusan Rp157 M

Minggu, 13 November 2022 | 17:44 WIB
header img
Ilustrasi peretasan data. Foto: net

SYDNEY, Lintasbabel.iNews.id - Hacker berhasil meretas data perusahaan asuransi kesehatan swasta terbesar di Australia Medibank. Tak main-main, para pelaku meminta tebusan 10 juta dolar AS atau sekitar Rp157 miliar pada Kamis kemarin. 

Kepolisian Federal Australia (AFP) merespons pembobolan itu. Mereka menuduh hacker Rusia di balik peretasan itu. Peretasan itu berdampak pada hampir 10 juta data nasabah dan mantan nasabah perusahaan, termasuk salah satunya Perdana Menteri Anthony Albanese.

Kepala AFP Reece Kershaw menyebut kejadian ini merupakan ulah sekelompok penjahat siber Rusia. Mereka juga dituduh bertanggung jawab atas beberapa kasus serupa di seluruh dunia.

Kershaw bahkan menyebut sudah mengetahui identitas para pelaku, namun dia enggan membeberkannya.

"Kepada para penjahat, kami tahu siapa Anda. Terlebih lagi, AFP punya beberapa langkah penting dalam hal membawa pelaku asing ke Australia untuk untuk menghadapi sistem peradilan," katanya, dikutip dari Reuters, Jumat (11/11/2022).

Kershaw melanjutkan, AFP akan menghubungi penegak hukum Rusia terkait para pelaku.

Medibank mengonfirmasi peretas mengakses informasi 9,7 juta data nasabah dan mantan nasabah. Para pelaku meminta uang tebusan 10 juta dolar AS sehingga mereka akan berhenti membocorkan dokumen rahasia dan sensitif.

Mereka mengunggah file batch kedua ke forum Dark Web pada Kamis (10/11/2022). File itu berisi informasi yang lebih detail dan sensitif ratusan nasabah Medibank.

Dalam pengungkapan data prtama, para pelaku membocorkan data nasabah terkait dengan penyalahgunaan narkoba, infeksi penyakit menular seksual, serta pengguran kandungan.

“Menambahkan satu lagi file aborsi.csv. 

Masyarakat bertanya kepada kami tentang uang tebusan, itu 10 juta dolar AS. Kita bisa beri diskon... 1 dolar=1 pelanggan,” tulis pelaku di forum Dark Web, sebagaimana dikutip dari AFP.

Medibank menegaskan tak akan memenuhi permintaan para pelaku.

Kasus yang dialami Medibank serta sebelumnya terjadi pada 9 juta pengguna jasa perusahaan telekomunikasi Optus menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan Australia dalam menangani kejahatan siber.

Mantan agen FBI yang juga pejabat Badan Intelijen Pertahanan AS, Dennis Desmond, mengatakan Australia merupakan target bernilai tinggi sama halnya seperti negara Barat lainnya.

"Sangat disayangkan, tetapi saya kira Australia tidak lebih rentan daripada negara maju Barat lainnya," ujarnya.

Dia menjelaskan, para hacker punya motif keuntungan finansial sehingga lebih tertarik menargetkan perusahaan yang menyimpan data berharga.

“Ini adalah tipe data yang paling menarik bagi para peretas. Data perawatan kesehatan adalah target besar dan data identitas pribadi bernilai tinggi. Umumnya, keuntungan dan keserakahan adalah motif nomor 1,” tuturnya.

Data pribadi Medibank yang dibobol kemungkinan termasuk individu paling berpengaruh dan kaya di negara itu.

Sementara itu CEO Medibank David Koczkar mengecam praktik pemerasan ini menyebutkan sebagai tindaka yang memalukan.

“Menjadikan senjata informasi pribadi banyak orang dengan tujuan memeras adalah berbahaya dan serangan paling rentan terhadap masyarakat kita,” katanya.

 

Editor : Muri Setiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut