Dengan demikian, keberhasilan pemulihan tidak semata-mata diukur dari perbaikan bangunan atau tersalurkannya bantuan, tetapi juga dari upaya memulihkan kondisi dan kesejahteraan warga yang terdampak.
Meski demikian, pendampingan melalui satu kegiatan belum dapat menjawab seluruh kebutuhan psikososial anak. Dukungan berkelanjutan dari keluarga, lingkungan sekitar, tenaga pendamping, dan pihak terkait tetap diperlukan sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
Apabila ditemukan kebutuhan yang lebih kompleks, pendampingan profesional juga perlu dipertimbangkan agar anak memperoleh dukungan yang sesuai.
Di sisi lain, keterlibatan BEM Institut Citra Internasional bersama dosen pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam merespons kebutuhan warga pascabencana.
Kampus diharapkan tidak hanya menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menghadirkan kepedulian dan pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan yang membutuhkan perhatian lebih.
Pada akhirnya, pemulihan pascakebakaran bukan hanya tentang seberapa cepat bangunan kembali berdiri, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat, termasuk anak-anak, dapat kembali menjalani kehidupan dengan rasa aman.
Api mungkin dapat dipadamkan dalam waktu singkat dan bangunan dapat diperbaiki secara bertahap. Namun, memulihkan rasa aman anak-anak membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kepedulian yang terus berlanjut, bahkan setelah kegiatan sosial berakhir.
Editor : Haryanto
Artikel Terkait
